Analisa Kredit Mikro

Mengacu pada UU no 20 tahun 2008, usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau  badan usaha perorangan yang:

  • memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
  • memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)

Sedangkan kredit mikro adalah pemberian kredit dengan plafon sampai dengan Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) [ sumber: metadata, Bank Indonesia ]

Sejalan dengan UU no 20 tahun 2008, pasal 8, maka keberadaan Bank Perkreditan Rakyat  (BPR) menjadi salah satu jawaban bagi aspek pendanaan kepada usaha-usaha mikro, yaitu dalam bentuk pemberian kredit mikro.

Perlu disadari bahwa BPR adalah lembaga keuangan bank yang di dalam operasionalnya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian, sehingga pemberian kredit yang sebagian besar tertuju pada usaha mikro tentu memerlukan cara khusus di dalam menentukan kelayakan nasabah yang akan dibiayai. Jika pada umumnya di dalam analisa kredit dikenal analisa 5 C, yaitu Character, Capacity, Capital, Condition of Economy, dan Collateral, maka pada kredit mikro perlu menambahkan Cash Flow.

Mengapa analisa cash flow pada pemberian kredit mikro menjadi penting?  Alasannya adalah bahwa:

  • dengan alasan mitigasi risiko, maka kredit mikro lebih cocok menggunakan pola angsuran;
  • sehingga perlu diketahui apakah pada tiap periode angsuran, debitur memiliki surplus cash flow atau tidak

 Umumnya para nasabah kredit mikro memiliki keterbatasan di dalam:

  • penyediaan informasi tentang keuangannya;
  • mencatat transaksi kas masuk ataupun kas keluar secara baik;
  • memisahkan keuangan usaha dan keluarga;
  • pemanfaatan jasa perbankan di dalam menunjang usahanya

Sehingga para analis pada BPR perlu memiliki keahlian khusus di dalam mengumpulkan data yang berkualitas terhadap kondisi keuangan pemohon kredit, khususnya untuk mendukung analisa arus kas.

Pengumpulan Informasi Keuangan:

Mengingat karakteristik usaha mikro adalah seperti itu, maka analis perlu membangun komunikasi yang baik agar mereka dapat bercerita berapa pemasukan dan pengeluarannya, baik untuk kegiatan usaha maupun rumah tangga. Mungkin saja, nasabah kecil tidak biasa merekap transaksi keuangan secara bulanan, maka analis perlu mendata transaksi hariannya untuk selanjutnya direkap untuk bulanan.

Para analis BPR juga perlu memahami karakteristik usaha dari calon debitur tersebut, sehingga dapat mengevaluasi apakah data yang dikumpulkan tersebut bisa diyakini atau tidak. Mengapa? Mungkin saja kesederhanaan masyarakat usaha mikro tidak dapat menceritakan informasi keuangannya dengan baik. Selalu harus dilakukan evaluasi ulang, apakah masuk akal?

Analisa Arus Kas

Berdasarkan data yang dikumpulkan, maka dilakukan analisa arus kas. Untuk itu, sangat diperlukan media untuk analisa, setidaknya menggunakan spreadsheet pada  komputer.  Adalah sangat penting bagi analis untuk memisahkan arus kas yang rutin dan yang sesekali saja.

Analisa arus kas untuk kredit modal kerja dan investasi tentu berbeda dengan analisa arus kas pada kredit konsumtif.  Jika pada kredit konsumtif,  rata-rata arus kas bersih menjadi acuan menentukan struktur kredit, sedangkan pada kredit modal kerja perlu membuat proyeksi arus kas selama jangka waktu kredit termasuk pengaruh dari pemberian kredit tersebut, yaitu adanya tambahan arus kas masuk dari pinjaman dan peningkatan volume usaha serta adanya arus kas keluar akibat fasilitas pinjaman yang diterima oleh debitur.

Analisa cash flow

Manfaat Analisa Arus Kas

Adanya data keuangan yang berkualitas, maka dapat dilakukan analisa arus kas, termasuk proyeksi arus kas untuk menentukan struktur kredit yang tepat.

Struktur kredit meliputi jumlah kredit yang diberikan, suku bunga, jangka waktu, struktur pengembalian dan persyaratan-persyaratannya.

Analisa kredit yang baik tidak saja untuk meminimalkan risiko bagi bank, namun juga sebagai indikasi apakah pemberian fasilitas kredit tersebut membawa peningkatan manfaat ekonomi bagi debitur.

baca juga topik “Analisa Kredit Mikro dan Secangkir Kopi Panas” di http://www.zinsari.blogspot.com/2013/03/analisa-kredit-mikro.html

Untitled

About zinsari

Zinsari adalah seorang professional trainer di bidang keuangan mikro. Ia menciptakan materi-materi pelatihan yang praktis dan bermanfaat bagi perkembangan keuangan mikro. Zinsari juga seorang master asesor dalam bidang asesmen kompetensi kerja serta sebagai lead asesor yang bertugas melakukan asesmen terhadap calon asesor.
This entry was posted in bank perkreditan rakyat, microfinance and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s