Mengapa masyarakat kecil sulit mendapatkan kredit dari perbankan?

Seperti kita ketahui bahwa perbankan di dalam memberikan kredit berdasarkan keyakinan, yaitu adanya keyakinan bahwa peminjam mau dan mampu mengembalikan pinjamannya sesuai perjanjiannya. Untuk menjawab pertanyaan di atas (judul), berikut ini adalah beberapa temuan yang sering menjadi penyebab sulitnya mendapatkan keyakinan pihak perbankan.

1. Identitas yang tidak valid

Sering kali terjadi ketidakcocokan data identitas seorang pemohon kredit, misalnya:

  • Nama yang tertera pada KTP berbeda dengan yang tercantum dalam Kartu Keluarga;
  • Nama pada Surat Nikah adalah nama panggilan bukan nama yang tertera pada KTP;
  • Nama pada dokumen agunan (misalnya sertifikat tanah) tidak sama dengan KTP;
  • Nama pada KTP berubah ketika perpanjangan, kadang hanya berbeda 1(satu) atau 2(dua) huruf;

2. Kepemilikan usaha

  • Tidak memiliki legalitas usaha;
  • Ada yang memiliki legalitas usaha, tetapi usaha dijalankan oleh pihak lain;
  • Ada juga yang memiliki usaha (katanya), tetapi legalitas atas nama orang lain, sehingga secara legal, dia bukanlah pemilik usaha.

3. Tidak memiliki catatan keuangan

Umumnya tidak mempunyai kemampuan di dalam membuat laporan keuangan, bahkan sebagian besar:

  • tidak memiliki catatan atas transaksi usahanya;
  • tidak menyimpan bukti-bukti transaksinya;
  • memiliki bukti transaksi, tetapi sulit untuk dibuktikan keotentikannya.

4. Tidak memiliki riwayat transaksi perbankan

Umumnya menggunakan uang tunai untuk bertransaksi, sehingga sangat minim catatan transaksi melalui perbankan. Tak jarang seorang pemohon hanya membuka rekening bank, ketika akan mengajukan kredit ke bank, sehingga tidak bisa memberikan informasi apa-apa kepada bank yang dituju.

5. Riwayat dengan perbankan yang kurang baik

Sebagian lagi memiliki catatan pinjaman di bank, namun justru kurang baik yang disebabkan adanya tunggakan angsuran hingga kredit macet yang berlarut-larut. Beberapa penyebab yang sering dijumpai adalah:

  • pemohon mengaku agunannya dipinjam oleh pihak lain sebagai jaminan di bank, dan akhirnya bermasalah;
  • pemohon mengaku kredit sebelumnya didapat melalui kantor dimana ybs bekerja, mereka tidak tahu harus membayar kemana?
  • pemohon mengaku namanya dicatut oleh bendahara perusahaan untuk mendapatkan pinjaman di bank;
  • terjebak dalam penggunaan kartu kredit.

6. Kewajiban melebihi penghasilan

Ini adalah hal tersulit bagi masyarakat, dimana penghasilan tidak sebanding dengan kewajibannya, atau bahkan tidak mencukupi kebutuhannya.

Sebagian sudah terlalu banyak pinjaman yang diterima, sehingga penghasilan yang ada tidak mungkin lagi sanggup untuk menanggung pinjaman baru.

7. Legalitas agunan

Sebagian pemohon memiliki agunan namun mengalami kendala dalam hal legalitas, antara lain:

  • agunan masih atas nama orang lain
  • nama pada agunan tidak sama dengan kartu identitas
  • pembelian tanah/bangunan hanya dengan selembar kwitansi, sedangkan bukti kepemilikan masih ditangan orang lain.

8. Ketidakcocokan bukti yang disengaja

Sebagian justru melebih-lebihkan penghasilannya, misalnya dengan membuat slip gaji atau surat keterangan gaji yang palsu, sehingga seseorang yang sebetulnya layak mendapatkan pinjaman bank, justru menghilangkan kepercayaan bank terhadap kejujurannya.

So What Gitu Lho?

Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa bank tidak mungkin sembarangan di dalam memberikan kredit, karena bank memobilisasi dana masyarakat di dalam menjalankan usahanya. Tidak perduli nasabah besar atau kecil, pihak bank harus mendapatkan keyakinan bahwa peminjam punya kemauan dan kemampuan untuk membayar kembali terhadap pinjaman yang diberikannya.

Untuk dapat memberikan keyakinan kepada pihak bank, maka ada baiknya siapapun kita mulai sekarang menaruh perhatian pada hal-hal berikut:

  1. Validitas identitas
  • Kebenaran identitas, baik nama ataupun alamat harus diutamakan. Nama pada KTP, Kartu Keluarga, Surat Lahir, Surat Nikah, SIM, Paspor, nama rekening bank dan bukti-bukti kepemilikan lainnya.

2. Catatan Keuangan

  • Biasakanlah mencatat, menyimpan atau bahkan membuat laporan atas transaksi-transaksi keuangan secara bulanan;
  • Biasakanlah melakukan pembayaran transaksi melalui fasilitas jasa perbankan agar terekam jejaknya.
  • Biasakanlah menyimpan slip gaji bagi pegawai.
  • Termasuk menyimpan bukti-bukti pembayaran, seperti rekening listrik, rekening telpon, pajak bumi dan bangunan.

3. Pertahankan riwayat perbankan yang baik

  • Jika memiliki pinjaman di lembaga keuangan, biasakanlah memenuhi kewajibannya sesuai jadwal.
  • Tidak meminjamkan agunan kepada pihak lain.
  • Biasakanlah menabung secara rutin.

4. Takar kemampuan

  • Ketahuilah penghasilan yang didapatnya tiap-tiap bulannya;
  • belanjalah sesuai kemampuan;
  • jika memegang kartu kredit, gunakan dengan bijak, setelah gesek toh harus bayar juga, bahkan ada biaya bunga, biaya penalti jika terlambat bayar;
  • Kartu kredit dan KTA tidaklah tepat jika digunakan untuk pendanaan modal kerja/usaha, mengingat bunganya yang tinggi.

5. Pertahankan kejujuran

  • Biasakanlah bersikap jujur, termasuk dalam hal memberikan bukti dan informasi kepada pihak bank.
  • Tidak merekayasa bukti apapun

6. Fokus pada usaha / bekerja

Jika seorang pengusaha, maka harus fokus dan serius menjalankan usaha-usaha yang digeluti. Usaha yang berkembang dapat menjadi bukti kemampuan berusaha, sehingga dapat memberikan keyakinan bahwa dana pinjaman dapat dikelola dengan baik.

Jika seorang pegawai, harus fokus dan serius bekerja secara profesional. Jadilah pegawai yang memang dibutuhkan di tempat kerjanya, bukan pegawai abal-abal.

7. Konsultasi dengan pihak bank

Lebih baik lagi, jika kita berkonsultasi dengan pihak bank mengenai kebutuhan dana yang tepat. Sampaikan segala penghasilan, kewajiban dan bukti kepemilikan, serta rencana pinjaman yang anda inginkan, termasuk penggunaan dari pinjaman tersebut. Alangkah indahnya kalau bisa direncanakan bersama-sama dengan pihak bank.

About zinsari

Zinsari adalah seorang professional trainer di bidang keuangan mikro. Ia menciptakan materi-materi pelatihan yang praktis dan bermanfaat bagi perkembangan keuangan mikro. Zinsari juga seorang master asesor dalam bidang asesmen kompetensi kerja serta sebagai lead asesor yang bertugas melakukan asesmen terhadap calon asesor.
This entry was posted in bank, bank perkreditan rakyat, kredit, microfinance. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s