SEYOGYANYA BANK MEMANDANG NASABAH PEMINJAM SEBAGAI BAGIAN DARI TANGGUNG JAWABNYA

Beberapa kasus yang menimpa dunia perbankan beberapa waktu yang lalu telah mencoreng nama perbankan di Indonesia. Sebut saja, kasus meninggalnya seorang debitur kartu kredit di kantor bank di Jakarta, terlepas meninggalnya debitur akibat sakit atau hal lain, namun yang jelas seperti yang diberitakan oleh media masa, debitur tersebut meninggal di hadapan para debt collector bank tersebut.  Sebagai bagian dari masyarakat, kita menyaksikan betapa mudahnya pihak perbankan di dalam menawarkan kartu kredit ataupun KTA (kredit tanpa agunan).  Syaratnya cukup dengan KTP (kartu tanda penduduk) dan nilai lebih bagi yang sudah punya kartu kredit di bank lain.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perbankan wajib menerapan prinsip kehati-hatian, yang salah satu perwujudannya adalah aktiva produktif yang berkualitas. Namun kalau kita melihat cara-cara bank tersebut di dalam menjaring nasabah, seperti melalui sms, menjajakannya di pusat-pusat perbelanjaan dan bahkan disubkontrakkan kepada pihak ketiga, hal ini menunjukkan betapa tidak diperhatikannya unsur kualitas saat penjaringan nasabah. Sebagai akibatnya, bank menerapkan premi risiko yang tinggi, sehingga beban bunga bagi nasabah menjadi sangat tinggi, yaitu berkisar antara 3% sampai dengan 3,5% per bulan atau setara 36% sampai dengan 42% per tahun.

Yang menjadi masalah adalah umumnya nasabah kecil tidak terlalu paham mengenai beban bunga tinggi, bagi mereka yang penting bisa mendapatkan fasilitas pinjaman dari bank, walaupun berupa kartu kredit, kredit tanpa agunan ataupun jenis kredit lainnya. Sebagian nasabah tidak mampu mengukur kemampuan dirinya dalam pembayaran kembali kepada pihak bank, dan lebih parah lagi ketika nasabah menggandalkan fasilitas kartu kredit, KTA ataupun jenis kredit lainnya yang beban bunganya begitu tinggi tersebut sebagai sumber dana modal kerjanya.

Dari sisi bank seolah tidak ada masalah, sebab risiko tinggi pada debiturnya telah diantisipasi dengan suku bunga yang tinggi dan jurus terakhirnya adalah menyerahkan penyelesaiannya melalui debt collector.

Pertanyaannya: pernahkan pihak bank memikirkan nasib nasabahnya di kemudian hari?

UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, pasal 4: “Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”. Jika bank mentaati UU tersebut, maka seyogyanya dalam setiap pemberian kredit, harus diupayakan adanya peningkatan kesejahteraan bagi si peminjam.  Bank tidak boleh hanya mengamankan sisi bank secara sepihak, bank punya tanggung jawab atas peningkatan kesejahteraan debitur setelah mendapatkan pinjaman.

Bagi masyarakat kecil, mendapatkan pinjaman dari bank adalah hal luar biasa, sehingga tingginya beban bunga terkadang tidak menjadi masalah baginya, seolah itu sudah menjadi risiko masyarakat kecil, termasuk risiko kehilangan segalanya di kala penghasilannya tidak mampu menutup tagihan dari bank.

Sebagai seorang bankir seyogyanya memandang nasabah peminjam sebagai bagian dari tanggung jawabnya. Setiap pemberian fasilitas kredit tidak dipandang sebagai tujuan bisnis semata, melainkan sebagai tanggung jawabnya untuk meningkatkan kemampuan nasabahnya.

Sebagai wujud penerapan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 tahun 1998, maka seyogyanya bank di dalam pemberian kredit juga memastikan bahwa struktur kredit yang ditetapkan terhadap setiap nasabahnya dapat membawa dampak positif bagi perekonomian nasabahnya. Jangan sampai ketidakmampuan bank di dalam menganalisa, ketidakmampuan bank dalam memahami sisi nasabahnya, dan ketidakmampuan bank dalam menetapkan struktur kredit justru menjadi beban nasabahnya.

About zinsari

Zinsari adalah seorang professional trainer di bidang keuangan mikro. Ia menciptakan materi-materi pelatihan yang praktis dan bermanfaat bagi perkembangan keuangan mikro. Zinsari juga seorang master asesor dalam bidang asesmen kompetensi kerja serta sebagai lead asesor yang bertugas melakukan asesmen terhadap calon asesor.
This entry was posted in bank, kredit. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s