Persoalan PPAP dalam Penghitungan Penghasilan Kena Pajak

Selama ini sering terjadi keluhan dari perbankan, khususnya Bank Perkreditan Rakyat mengenai tidak diakuinya pembentukan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif)  sebagai pengurang dalam penghitungan besarnya penghasilan kena pajak. Di satu pihak, perbankan harus mematuhi Peraturan Bank Indonesia yang mewajibkan perbankan membentuk PPAP berdasarkan kualitas aktiva produktif dan nilai agunan yang dimiliki. Di pihak lain, masih ada kantor pelayanan pajak yang tidak mengakui beban pembentukan PPAP sebagai beban yang mengurangi besarnya penghasilan kena pajak.

Kenapa hal tersebut masih saja terjadi? Hal ini mungkin disebabkan ketidaktahuan para pihak tentang peraturan-peraturan yang berlaku.

Sebenarnya untuk memberikan kepastian, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 81/PMK.03/2009 tentang Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan Sebagai Biaya yang kemudian dilakukan perubahan melalui Peraturan Menteri Keuangan nomor 219/PMK.011/2012.

Pasal 1, huruf a angka 1:

Pembentukan atau pemupukan dana cadangan yang boleh dikurangkan sebagai biaya yaitu:

a. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang, yang meliputi:

1. cadangan piutang tak tertagih untuk:

a) bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional

b) bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah

c) bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional; dan

d) bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Pasal 4:

(1) Besarnya cadangan piutang tak tertagih untuk bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 huruf a angka 1 butir c ditetapkan sebagai berikut:

a. 0,5% (setengah persen) dari piutang dengan kualitas lancar tidak termasuk Sertifikat Bank Indonesia;

b. 10% (sepuluh persen) dari piutang dengan kualitas kurang lancar setelah dikurangi dengan nilai agunan;

c. 50% (limapuluh persen) dari piutang dengan kualitas diragukan setelah dikurangi dengan nilai agunan;

d. 100% (seratus persen) dari piutang dengan kualitas macet setelah dikurangi dengan nilai agunan.

(2) Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang pada cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling tinggi adalah:

a. 100% (seratur persen) dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% (tujuhpuluhlima persen) dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yang ditetapkan perusahaan penilai.

(3) Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk membentuk dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pokok pinjaman yang diberikan oleh bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional.

Jika kita lihat uraian pada bagian “Menimbang” dalam PMK nomor 219/PMK.011/2012:

a. bahwa dalam rangka lebih memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak yang dapat melakukan pembentukan atau pemupukan dana cadangan yang boleh dikurangkan dalam menentukan besarnya penghasilan kena pajak, perlu melakukan penyesuaian terhadap ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 81/PMK.03/2009 tentang Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan Sebagai Biaya.

Ini jelas bahwa selama ini memang terjadi kerancuan, semoga tidak lagi terjadi keraguan ataupun perbedaan persepsi, baik bagi kalangan praktisi perbankan maupun petugas pajak.

About zinsari

Zinsari adalah seorang professional trainer di bidang keuangan mikro. Ia menciptakan materi-materi pelatihan yang praktis dan bermanfaat bagi perkembangan keuangan mikro. Zinsari juga seorang master asesor dalam bidang asesmen kompetensi kerja serta sebagai lead asesor yang bertugas melakukan asesmen terhadap calon asesor.
This entry was posted in bank, bank perkreditan rakyat. Bookmark the permalink.

6 Responses to Persoalan PPAP dalam Penghitungan Penghasilan Kena Pajak

  1. dilihat dari PMK 81 pasal 4 ayat 2, dana cadangan yang boleh dibebankan adalah setelah dikurangi nilai agunanbesarnya “paling tinggi” …. pertanyaan saya, paling tinggi itu artinya bisa lebih kecil atau harus sebesar ?

  2. alim kuo says:

    Dear Pak Zinsari
    pak, dari PBI dan PMK sudah di atur kewajiban untuk bentuk dana cadangan dan di biayakan, tetapi dari peraturan Dirjen pajak menerangkan bahwa dana cadangan yang boleh di bebankan hanya pada kredit yang macet sedangkan untuk kredit yang masih berjalan lancar dana cadangan tetap berjalan tetapi tidak boleh di bebankan. dari kasus di atas kita harus ikut ke peraturan mana pak?
    setau saya bank ikut ke PBI maka untuk penyelesaiannya seperti apa?

    terima kasih
    Alim

    • zinsari says:

      silahkan baca lebih teliti, dalam ulasan tersebut sudah sangat jelas.

    • Hanz says:

      Dear Pak Alim,
      Jurnal untuk PPAP adalah:
      D K
      Biaya PPAP 1,000
      PPAP 1,000

      Besar angkanya adalah sesuai dengan ketentuan BI.

      Jika kredit yang macet adalah sebesar 200, maka menurut ketentuan pajak, biaya PPAP yang dibukukan adalah yang 200 saja. Sehingga, dalam laporan perpajakan, Biaya PPAP harus diekualisasi (reklas untuk penyesuaian fiskal) sebesar 800.

      Sedangkan untuk pelaporan ke BI tetap harus mengikuti ketentuan BI. Ingat bahwa dasar laporan adalah sesuai dengan ketentuan perbankan. Akan tetapi, untuk pelaporan perpajakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan penyesuaian fiskal menurut ketentuan perpajakan.

      Terima kasih,

      Hanz

  3. Moh. Farid Wajdi says:

    Selamat sore Pak Zinsari

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Setelah kami mempelajari dan membaca ulang ulasan diatas, kami masih belum tahu apakah biaya pembentukan penyisihan penghapusan aset produktif (PPAP) pada akhir tahun selalu dikoreksi fiskal semua atau dikoreksi fiskal sebagian (biaya PPAP setahun – Hapus buku selama tahun berjalan). Mohon pencerahannya.

    Atas pernjelasan dan arahannya kami ucapkan terima kasih.

    Farid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s