Tukang Gorengan: Titik Balik Seorang Preman

53d39afc8a74b70a59a3b64340e70b5d39fdb09boleh: Zinsari

Tukang gorengan sebut saja namanya Iwan. Sudah 3 bulanan pak Iwan menjadi seorang penjual gorengan (tahu, tempe, ubi, dll) di sekitar kantorku. Suatu sore saya menjadi pembelinya untuk pertama kalinya. Saya sempatkan ngobrol beberapa menit, sehingga memotivasiku untuk menulis cerita ini.

Pak Iwan sudah saya kenal lebih dari 10 tahun yang lalu. Pertama kali dia membuat ulah di kantor saya, melempar botol bir ke dalam kantor dan mengajak satpam kantor untuk berantem dan minta duit. Keesokan harinya, saya meminta seorang satpam senior di lingkungan untuk memanggil pak Iwan dan menghadap saya. Saat itu timbul keberanian saya untuk membentaknya seolah saya tidak takut dan lebih hebat darinya, lalu saya memberikan sedikit wejangan, dan terakhir saya berikan satu lembar uang sembari memintanya untuk tidak mengulangi lagi.

Apa reaksi pak Iwan saat itu?

Ia menyalami saya sambil meneteskan air mata sambil berkata “Bapak baik sekali, padahal saya sudah berbuat ulah disini, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi”.

Apakah pak Iwan serta merta berubah?

Tidak, ia masih saja sebagai preman di lingkungan, masih saja melakukan pemalakan maupun pencurian di lingkungan. Tetapi pak Iwan memang memegang janjinya, sejak itu tidak lagi berbuat ulah di kantor saya. Walaupun terkadang masih sering mampir dan berbincang-bincang dengan saya, terutama menjelang lebaran. Saya sudah anggap pak Iwan sebagai teman, seorang teman yang sering saya nasehati untuk bekerja yang halal.

Nah, ternyata pak Iwan butuh waktu 10 tahun untuk menuju titik balik. Kini tampak ada wajah riang yang menyapa para pembelinya.Sayapun bertanya, kenapa pak Iwan bisa bertobat dan menjadi seorang penjual gorengan? Ia menjawab “karena bapak, saya merasa tidak pantas jadi preman, karena bapak tidak takut kpd saya”. Lho kok? dia pun meralat alasannya begini “ternyata kerja saya selama ini tidak membuat saya bahagia, saya tetap saja kere, saya membuat orang-orang ketakutan, dan saya jadi musuh masyarakat.”

Ya, apapun alasannya, yang penting sekarang saya bangga, di lingkungan ini sudah ada contoh seorang preman yang tobat. Dagangannya lumayan ramai, coba pak Iwan menyadari kekeliruannya sejak dulu, mungkin dia sudah jauh lebih sukses dari sekarang. Tetapi walau bagaimana saya merasa senang melihat pak Iwan sekarang. Sukses pak Iwan…

≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡≡

About zinsari

Zinsari adalah seorang professional trainer di bidang keuangan mikro. Ia menciptakan materi-materi pelatihan yang praktis dan bermanfaat bagi perkembangan keuangan mikro. Zinsari juga seorang master asesor dalam bidang asesmen kompetensi kerja serta sebagai lead asesor yang bertugas melakukan asesmen terhadap calon asesor.
This entry was posted in Kisah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s